Mimpi kerja di Jepang bukan sekadar angan-angan. Kak Braja, alumni Sastra Jepang UNSADA, membuktikannya dengan pengalaman nyata selama 1,5 tahun bekerja di Social Welfare Corporation Ryokufūkan, Minamiawaji, Hyogo. Dari masa sulit sebagai job seeker di tengah pandemi hingga menjadi profesional di Jepang, perjalanannya penuh perjuangan dan pembelajaran. Salah satu kunci suksesnya? Dukungan dari Cetta Japanese, yang jadi jembatan antara mimpi dan kenyataan.
Buat kamu yang ingin mengikuti jejaknya, yuk simak kisah lengkap Kak Braja berikut ini. Siapa tahu, ini bisa jadi inspirasi untuk memulai langkahmu sendiri!
Perjuangan Kak Braja dari Job Seeker hingga Bekerja di Jepang
Tahun 2020 adalah masa-masa sulit bagi Kak Braja. Pandemi COVID-19 membuat proses pencarian kerja jadi sangat menantang. Meski sudah lulus dari jurusan Sastra Jepang, peluang kerja yang sesuai dengan latar belakangnya terasa terbatas. Dua tahun berlalu, ia sempat bekerja di pabrik, tapi akhirnya memutuskan untuk resign dan mencari arah karir yang lebih jelas.
Apa yang mengubah segalanya? Sebuah Instagram story dari Kak Ali, Co-Founder Cetta Japanese, yang kebetulan adalah sahabatnya sejak sekolah. Story tersebut membahas kerja sama Cetta Japanese dengan Human Life Care untuk membantu orang Indonesia bekerja di Jepang. Kak Braja langsung menghubungi Kak Ali dan menanyakan program tersebut. Dari situlah, ia mulai proses apply kerja lewat Cetta Japanese.
Dengan bekal bahasa Jepang level N3 dari kampus, Kak Braja melihat ini sebagai kesempatan emas. Tapi, apakah prosesnya semudah yang dibayangkan? Ternyata tidak! Ada banyak tahapan yang harus dilalui, dan di sinilah peran Cetta Japanese jadi sangat penting.
Butuh bantuan untuk persiapan dokumen atau tes bahasa Jepang? Tugasin punya layanan joki tugas dan joki makalah yang bisa membantumu fokus pada persiapan karir internasional!
Peran Cetta Japanese dalam Persiapan Kerja di Jepang
Banyak yang mengira Cetta Japanese hanya lembaga kursus bahasa Jepang biasa. Tapi, pengalaman Kak Braja membuktikan bahwa Cetta Japanese jauh lebih dari itu. Mereka memberikan dukungan penuh dari A sampai Z untuk mewujudkan impian para Cetizen (sebutan untuk siswa Cetta) menjadi World Class Citizen.
Apa saja peran penting Cetta Japanese dalam perjalanan Kak Braja?
Jembatan Komunikasi dengan Human Life Care
Cetta Japanese berperan sebagai perantara antara Kak Braja dan Human Life Care (HLC), lembaga yang menangani penempatan kerja di Jepang. Komunikasi yang lancar dan informatif membuat proses yang kompleks jadi lebih mudah dipahami. Tanpa dukungan ini, mungkin Kak Braja akan kesulitan memahami setiap tahapan yang harus dilalui.
Bantuan Persiapan Dokumen
Salah satu tantangan terbesar adalah perbedaan format CV antara Indonesia dan Jepang. Kak Braja mengaku, Cetta Japanese membantunya menyiapkan CV dan dokumen lainnya dengan template khusus yang disesuaikan dengan standar Jepang. Alana Sensei, salah satu tutor di Cetta, bahkan memberikan panduan detail agar CV-nya lebih menarik di mata perusahaan Jepang.
Pendampingan Administrasi
Proses rekrutmen untuk bekerja di Jepang bukan sekadar mengirim CV dan mengikuti interview. Ada banyak tahapan administratif yang harus dilalui, seperti:
- Interview dengan HLC
- Interview dengan kaisha (perusahaan Jepang)
- Ujian SSW (Specified Skilled Worker)
- Pengurusan Certificate of Eligibility (memakan waktu sekitar 3 bulan)
- Pengumpulan berbagai dokumen pendukung lainnya
Seluruh proses ini memakan waktu hampir setengah tahun. Tapi, dengan dukungan Cetta Japanese, Kak Braja merasa lebih tenang karena selalu mendapatkan informasi yang jelas dan bantuan yang dibutuhkan. Menurutnya, yang paling terasa adalah sikap Cetta yang informatif dan komunikatif sebagai pihak perantara selama proses rekrutmen.
Proses Administrasi dan Rekrutmen Kerja di Jepang
Apa saja sih tahapan yang harus dilalui untuk bisa kerja di Jepang? Kak Braja membagikan pengalamannya agar kamu bisa lebih siap. Prosesnya memang panjang, tapi setiap langkahnya penting untuk memastikan kamu benar-benar siap bekerja di negeri Sakura.
1. Persiapan Dokumen
Dokumen adalah hal pertama yang harus disiapkan. Mulai dari CV, transkrip nilai, sertifikat bahasa Jepang, hingga dokumen pendukung lainnya. Pastikan semua dokumen sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dan disesuaikan dengan format yang dibutuhkan.
2. Interview dengan HLC
Setelah dokumen lengkap, kamu akan mengikuti interview dengan Human Life Care. Interview ini bertujuan untuk menilai keseriusan dan kesiapanmu bekerja di Jepang. Pastikan kamu sudah mempersiapkan jawaban yang baik dan menunjukkan motivasi yang kuat.
3. Interview dengan Perusahaan Jepang
Jika lolos interview dengan HLC, langkah selanjutnya adalah interview dengan perusahaan Jepang (kaisha). Di tahap ini, perusahaan akan menilai apakah kamu cocok dengan budaya kerja dan posisi yang ditawarkan. Persiapkan diri dengan baik, karena interview ini bisa jadi penentu akhir.
4. Ujian SSW (Specified Skilled Worker)
Ujian SSW adalah salah satu syarat utama untuk bisa bekerja di Jepang melalui program Tokutei Ginou. Ujian ini menguji kemampuan bahasa Jepang dan pengetahuan teknis terkait pekerjaan yang akan kamu lakukan. Pastikan kamu sudah belajar dengan baik dan memahami materi yang diujikan.
5. Pengurusan Certificate of Eligibility
Certificate of Eligibility adalah dokumen penting yang harus kamu miliki untuk mendapatkan visa kerja. Proses pengurusannya memakan waktu sekitar 3 bulan, jadi pastikan kamu sudah menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan sejak awal.
Butuh bantuan untuk mempersiapkan dokumen atau tes bahasa Jepang? Tugasin menyediakan layanan cek plagiarisme untuk memastikan dokumenmu bebas dari kesalahan dan siap digunakan!
Pengalaman dan Tantangan Bekerja sebagai Kaigo di Jepang
Apa yang sebenarnya dilakukan oleh seorang Kaigo (perawat lansia) di Jepang? Kak Braja berbagi pengalamannya bekerja di divisi tingkat lanjut, yang tentunya memiliki tantangan tersendiri.
Awalnya, Kak Braja membayangkan pekerjaan sebagai Kaigo akan menyenangkan, seperti mengobrol dengan lansia dan mendengarkan cerita sejarah Jepang. Tapi kenyataannya, ia ditempatkan di divisi tingkat lanjut, dimana lansia yang dirawat membutuhkan perhatian ekstra. Tantangan terbesarnya adalah kemampuan komunikasi dalam bahasa Jepang. Ia harus pintar mengolah kata-kata untuk berkomunikasi dengan pasien sehari-hari.